Hari ini sepulang dari sekolah Ayu
tidak tampak girang seperti biasanya. Memberi salam kepada ibunya pun
dengan nada yang memelas. Ibu yang sedang membaca koran merasa bingung,
kemudian menghampiri Ayu.
“Ada
apa sayang? Apakah kamu sakit?”
Ayu
menggeleng.
“Atau
kamu mendapat nilai jelek?”
“Bukan,
Ibu.”
“Lalu
apa yang membuat anak Ibu cemberut begini?” tanya Ibu sambil mengelus lembut
rambut Ayu
“Ayu
bingung Bu. Tadi Ayu ditunjuk oleh wali kelas untuk membacakan puisi di pentas
sekolah dua minggu lagi. Ta.. tapi Ayu kan belum pernah baca puisi sebelumnya
Bu. Ayu tidak bisa…”
“Kenapa
Ayu merasa tidak bisa? Sudah pernah mencoba?”
“Belum
sih Bu, tapi kan belum pernah. Nanti kalau jelek gimana?”
“Tenang,Sayang.Kalau
rajin berlatih pasti bisa. Jangan pernah takut mencoba! Nanti kita latihan
bersama ya.”
Ayu
mengangguk kemudian memeluk erat ibunya.
***
Setiap sore Ayu berlatih membaca puisi bersama ibunya di teras belakang rumah.
***
Tibalah hari diadakannya pentas sekolah. Ayu sudah siap di belakang panggung
dengan puisinya. Diintipnya suasana dari balik tirai, sungguh sangat ramai. Di
antara sekian banyak orang yang datang, Anita melihat ayah dan ibunya di bangku
penonton. Ia tersenyum lebar. Rasa takut dan khawatir kini tak lagi
menghinggapinya. Ketika namanya dipanggil, Ayu maju ke panggung dan membacakan
puisi dengan lancar dan indah. Semua penonton yang hadir bertepuk tangan
gembira. Guru dan teman-temannya memberikan selamat kepadanya setelah
selesai pentas.
cerita non fiksi itu kyaknya sayang... itu bukan crita khayalan
BalasHapuskan bpak suruh cerita terserah cerita apa , trus saya pilih yg ini , ndak ada yg salah saya sudah kasih liat bapak ..
BalasHapus